Langsung ke konten utama

LA MODUL 4

1. Prosedur [Kembali ke Daftar Isi]

Prosedur (Langkah-Langkah Simulasi Rangkaian)

  1. Membuka software Proteus dan membuat project baru.
  2. Menambahkan komponen STM32 Blue Pill ke dalam workspace.
  3. Menambahkan sensor SW-420 sebagai sensor getaran tanah.
  4. Menambahkan sensor SW-520D sebagai sensor kemiringan tanah.
  5. Menambahkan Capacitive Soil Moisture Sensor sebagai sensor kelembaban tanah.
  6. Menambahkan Flame Sensor sebagai sensor pendeteksi api.
  7. Menambahkan Sensor Gas MQ-2 sebagai sensor pendeteksi asap dan gas mudah terbakar.
  8. Menambahkan LCD I2C 16×2 sebagai media tampilan data.
  9. Menambahkan Buzzer sebagai alarm peringatan.
  10. Menghubungkan seluruh sensor ke pin input STM32 Blue Pill sesuai perancangan.
  11. Menulis program pada STM32CubeIDE menggunakan bahasa C.
  12. Mengompilasi program dan menghasilkan file .hex.
  13. Memasukkan file .hex ke mikrokontroler pada Proteus.
  14. Menjalankan simulasi.
  15. Mengubah nilai sensor untuk mensimulasikan kondisi normal, longsor, kebakaran, dan kondisi gabungan.
  16. Mengamati respon LCD dan buzzer terhadap perubahan kondisi sensor.

2. Hardware dan Diagram Blok [Kembali ke Daftar Isi]

INPUT :

1. Sensor SW-420 (Sensor Getar)



Kegunaan:

Mendeteksi getaran atau pergerakan tanah. 

Digunakan sebagai indikator awal terjadinya tanah longsor. 

Jika lereng mulai bergerak atau bergetar, sensor akan mengirim sinyal ke STM32 Blue Pill.

2. Tilt Sensor SW-520D



Kegunaan:

Mendeteksi perubahan sudut atau kemiringan tanah/tiang. 

Digunakan untuk mengetahui apakah lereng mulai berubah posisi.

3. Capacitive Soil Moisture Sensor



Kegunaan:

Mengukur kelembaban tanah. 

Tanah yang terlalu basah memiliki risiko longsor lebih tinggi.

4. Flame Sensor



Kegunaan:

Mendeteksi adanya api atau nyala kebakaran. 

Sensor bekerja dengan mendeteksi cahaya inframerah dari api.

5. Sensor Gas MQ-2



Kegunaan:

Mendeteksi asap, gas LPG, dan gas mudah terbakar. 

Digunakan untuk mengetahui adanya kebocoran gas atau asap kebakaran.

OUTPUT :

1. Buzzer



Fungsi:

Mengeluarkan alarm suara saat kondisi bahaya terdeteksi.

2. Relay + Exhaust Fan




Fungsi:

Mengaktifkan kipas otomatis saat terdeteksi asap/gas.

3. Relay + Mini Water Pump



Fungsi:

Menyalakan pompa air otomatis saat flame sensor mendeteksi api.

4. LCD 16x2 I2C



Fungsi:

Menampilkan informasi kondisi sistem: 

              Aman 

             Waspada 

             Bahaya Longsor 

             Kebakaran Terdeteksi

BLOG DIAGRAM





3. Rangkaian Simulasi dan Prinsip Kerja [Kembali ke Daftar Isi]



Prinsip kerja sistem dimulai ketika STM32 Blue Pill mengaktifkan seluruh sensor. Sensor SW-420 membaca adanya getaran yang dapat mengindikasikan pergerakan tanah. Sensor SW-520D membaca perubahan sudut kemiringan lereng. Sensor Soil Moisture mengukur kadar air tanah yang menjadi salah satu indikator potensi longsor.

Apabila kelembaban tanah tinggi, disertai getaran dan perubahan kemiringan melebihi batas yang ditentukan, STM32 akan mengidentifikasi kondisi tersebut sebagai potensi tanah longsor.

Untuk deteksi kebakaran, Flame Sensor digunakan untuk mendeteksi nyala api secara langsung. Sensor MQ-2 digunakan untuk mendeteksi asap dan gas hasil pembakaran. Jika salah satu atau kedua sensor mendeteksi indikasi kebakaran, STM32 akan mengaktifkan alarm.

Selanjutnya data kondisi yang diperoleh akan ditampilkan pada LCD. Buzzer akan aktif sebagai peringatan dini apabila kondisi bahaya terdeteksi.

Output sistem terdiri dari:

  • Tampilan status pada LCD
  • Bunyi alarm buzzer
  • Informasi kondisi normal atau bahaya

4. Flowchart dan Listing Program [Kembali ke Daftar Isi]




Listing Program:

// Tempel kode program Anda di sini
void setup() {
  Serial.begin(9600);
}

void loop() {
  // Logika program berjalan di sini
}

5. Landasan Teori [Kembali ke Daftar Isi]

Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh suatu bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana melalui pembangunan fisik, penyadaran, dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Penerapan sistem peringatan dini merupakan salah satu bentuk mitigasi struktural yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat sebelum bencana terjadi sehingga tindakan pencegahan dan evakuasi dapat dilakukan lebih cepat. Dalam penelitian ini, sistem peringatan dini digunakan sebagai media edukasi mitigasi bencana tanah longsor dan kebakaran di kawasan Batu Busuak.

Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) adalah suatu sistem yang dirancang untuk mendeteksi gejala awal terjadinya suatu bencana dan memberikan informasi peringatan kepada masyarakat sebelum bencana tersebut terjadi. Sistem ini berfungsi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sehingga dapat meminimalkan korban jiwa maupun kerugian material.

Komponen utama dalam sistem peringatan dini meliputi:

  1. Sensor sebagai alat pendeteksi kondisi lingkungan.
  2. Pengolah data (mikrokontroler).
  3. Sistem komunikasi atau penyampaian informasi.
  4. Perangkat alarm atau indikator peringatan.

Pada penelitian ini, sensor berfungsi untuk mendeteksi perubahan kondisi lingkungan, STM32 Blue Pill bertindak sebagai pengolah data, sedangkan LCD dan buzzer digunakan sebagai media penyampaian informasi dan peringatan.

Tanah longsor merupakan peristiwa perpindahan massa tanah atau batuan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat gangguan kestabilan lereng. Longsor sering terjadi pada daerah perbukitan yang memiliki kemiringan lereng tinggi dan curah hujan yang besar.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan tanah longsor antara lain:

  1. Curah hujan yang tinggi.
  2. Kemiringan lereng yang curam.
  3. Getaran akibat gempa atau aktivitas manusia.
  4. Erosi tanah.
  5. Berkurangnya vegetasi penahan tanah.

Pada penelitian ini, potensi longsor dideteksi berdasarkan tiga parameter utama yaitu getaran tanah, perubahan kemiringan lereng, dan tingkat kelembaban tanah.

Kebakaran adalah suatu peristiwa terjadinya nyala api yang tidak terkendali sehingga dapat menimbulkan kerugian baik terhadap manusia, lingkungan maupun infrastruktur. Kebakaran terjadi karena adanya tiga unsur utama yang dikenal sebagai Segitiga Api (Fire Triangle), yaitu:

  1. Bahan bakar (Fuel)
  2. Oksigen (Oxygen)
  3. Sumber panas (Heat)

Apabila ketiga unsur tersebut bertemu maka akan terjadi proses pembakaran.

Pada penelitian ini, kebakaran dideteksi menggunakan Flame Sensor untuk mendeteksi nyala api dan Sensor MQ-2 untuk mendeteksi asap atau gas hasil pembakaran.

6. Kondisi [Kembali ke Daftar Isi]

Kondisi 1 (Normal)

  • Getaran = Tidak ada
  • Kemiringan = Normal
  • Kelembaban = Rendah
  • Api = Tidak ada
  • Asap = Tidak ada

Output:

LCD = Normal

BUZZER = Off

Kondisi 2 (Potensi Longsor)

  • Getaran = Ada
  • Kemiringan = Berubah
  • Kelembaban = Tinggi

Output:

LCD = Longsor

BUZZER = On

Kondisi 3 (Potensi Kebakaran)

  • Flame Sensor aktif
  • MQ-2 mendeteksi asap

Output:

LCD = Kebakaran

BUZZER = On

Kondisi 4 (Longsor dan Kebakaran)

Output:

LCD = Bahaya

BUZZER = On

7. Video Simulasi [Kembali ke Daftar Isi]

8. Download File [Kembali ke Daftar Isi]





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Akhir Dioda Zener

Laporan Akhir Reverse Bias Dioda

Laporan Akhir Forward Bias Dioda